Tuesday, October 27, 2009

Musik klasik untuk sang buah hati

Musik klasik dapat memberikan rangsangan pada bayi karena kaya komponen suara atau beragam alat musik yang tergabung di dalamnya. Stimulasi musik klasik ini bisa mulai diberikan sejak janin berusia empat bulan. Pada masa ini janin sedang membentuk sel-sel otak, dan syaraf janin sudah memberikan respons pada stimulasi suara.

Stimulasi musik klasik sebaiknya dilakukan setiap hari minimal setengah jam. Musik klasik ini bisa didengarkan sambil melakukan kegiatan lain. Bagi ibu hamil yang tidak begitu menyukai musik klasik dan selalu ketiduran bila mendengarnya, tidak perlu khawatir karena meskipun ibu tertidur janin tetap bisa mendengarkan musik itu. Mulailah mendengarkan musik klasik setelah usia janin 4 bulan ke atas. Dan setelah lahir sering-seringlah memutar musik klasik di kamar atau ruang bermain bayi dan balita. Beberapa penelitian telah dilakukan dalam membuktikan manfaat musik klasik bagi kesehatan, terutama untuk kecerdaan otak. Memang dalam hidup ini kita tak kan pernah lepas dari yang namanya musik, dimanapun kita berada kita akan selalu bersentuhan dengan musik. Namun pilihan kita terhadap musik juga dapat berpengaruh pada kesehatan kita.


Pada tahun 1998, Don Campbell, seorang musisi sekaligus pendidik, bersama Dr. Alfred Tomatis yang psikolog, mengadakan penelitian untuk melihat efek positif dari beberapa jenis musik. Hasilnya dituangkan dalam buku mereka yang di Indonesia diterbitkan dengan judul Efek Mozart, Memanfaatkan Kekuatan Musik Untuk Mempertajam Pikiran, Meningkatkan Kreativitas dan Mnyehatkan Tubuh.Banyak fakta menarik yang diungkap Campbell dan Tomatis. Diantaranya, adanya hubungan yang menarik antara musik dan kecerdasan manusia.


Musik (klasik) terbukti dapat meningkatkan fungsi otak dan intelektual manusia secara optimal. Campbell kemudian mengambil contohkarya Mozart, Sonata in D major K 488 yang diyakininya mempunyai efek stimulasi yang paling baik bagi bayi.


Sedangkan menurut Dra. Louise, M.M.Psi., psikologi sekaligus terapis musik dari Present Education Program RSAB Harapan Kita, Jakarta, sesungguhnya bukan hanya musik Mozart yang dapat digunakan. Semua musik berirama tenang dan mengalun lembut memberi efek yang baik bagi janin, bayi dan anak-anak.
Lebih sering disebut efek Mozart sebab musik-musik gubahan Mozart-lah yang pertama kali di teliti.
Dikutip dari “INTISARI : Kumpulan Artikel Psikologi Anak 3” di mtvasiablog.com

Penelitian lain juga pernah dilakukan.
Frances Rauscher dan koleganya dari Universitas Wisconsin, AS melakukan penelitian hubungan antara kecerdasan dan musik. Para peneliti dari perguruan tinggi tersebut membagi dua kelompok tikus hamil. Kepada kelompok pertama diperdengarkan sejumlah sonata-sonata yang indah dari Mozart. Lalu, bayi-bayi tikus yang baru lahir masih tetap disuguhi musik yang sama sampai mereka berusia 2 bulan. Kelompok induk lainnya diperdengarkan musik minimalis Glass dan hal itu dilanjutkan sampai bayi-bayi tikus berusia 2 bulan. Rauscher dan kawan-kawannya kemudian menguji apakah “vitamin musik” yang diberikan sebagai makanan suplemen untuk dua kelompok tikus itu memberi dampak pada kecerdasan. Mereka menguji tikus-tikus bayi itu untuk berlomba di jaringan jalan yang ruwet, jalan yang simpang siur, untuk mendapatkan hadiah makanan. Hasil uji coba sangat mengesankan. Bayi-bayi tikus yang mendapatkan “vitamin musik klasik” dari sonata-sonata Mozart bekerja dengan sempurna dan sedikit sekali melakukan kesalahan dan mereka membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama untuk makanan sebagai hadiahnya. Sedangkan kelompok tikus yang mendapat vitamin musik minimalis dari Glass tampak tidak secerdas kelompok “klasik”. Demikian laporan para peneliti dalam jurnal ilmiah Neurological Research seperti yang dikutip oleh Reuters (5/8/98).

Penelitian tersebut mengisyaratkan musik yang kompleks (musik klasik) telah meningkatkan daya belajar tikus terhadap ruang dan waktu (spatial-temporal). Dan hal ini juga berlaku untuk manusia. Para peneliti sampai pada kesimpulan, kemampuan spatial dapat ditemukan pada orang yang telah mendapat pelajaran matematika, musik dan ilmu pengetahuan.

Penelitian diatas menguatkan hasil penelitian selama ini mengenai pengaruh musik klasik pada peningkatan kecerdasan. UNESCO Music Council malah telah menegaskan, pertama, musik klasik adalah alat pendidikan. Kedua, musik adalah alat untuk mempertajam rasa inteletual manusia (intellect Einfullung). Musik yang demikian biasanya mempunyai keseimbangan antara empat unsur musik, yakni melodi, harmoni, irama (rhythm) dan warna suara (timbre). Musik yang memenuhi persyaratan ini adalah musik klasik, semi klasik, musik rakyat juga musik tradisional seperti karawitan.

dikutip dari gloriamus.org
Yukz kita terapin musik klasik untuk mencerdaskan anak bangsa.
sumber http://imadeharyoga.com/2008/11/penelitian-musik-klasik/

Music for children (2)

Music for children (2)

BAGAIMANA musik mempengaruhi otak bayi?
Setiap orangtua tentuna ingin mempunyai anak pandai, cerdas, dan tidak mengalami kesulitan dalam perkembangan emosionalnya. Untuk mendapatkan itu semua, tidak hanya diperlukan gizi yang cukup, tetapi juga diperlukan stimulasi memadai sejak anak masih dalam kandungan.

Stimulasi yang paling baik, dalam arti mendapat respons dari janin adalah suara ibu dan musik klasik. Pendapat ini berdasarkan penelitian pada tahun 1980-an yang dilakukan dr Alfred Tomatis, ahli telinga hidung dan tenggorok, psikolog, dan pendidik dari Perancis. Penelitian itu menunjukkan, suara ibu dan musik klasik dapat merangsang otak sehingga menimbulkan gerakan motorik tertentu pada janin dan bayi baru lahir. Suara ibu dan musik klasik dapat mengatur cepat atau lambatnya denyut jantung janin dan bayi, serta merangsang penambahan berat badan bayi. Ketukan musik juga mempunyai efek terhadap kepandaian anak dalam matematika.

Proses pengenalan musik akan melibatkan banyak daerah di otak. Di otak terdapat pusat asosiasi penglihatan dan pendengaran yang berfungsi mengartikan obyek yang dilihat dan didengar. Informasi dari pusat yang berada di permukaan otak tersebut akan diteruskan ke pusat emosi yang diatur di dalam sistem limbic.


Dari pusat pengatur emosi ini perasaan sedih timbul oleh rangsangan musik dengan kunci minor dan tempo perlahan. Emosi sedih membawa dampak perubahan fisiologi tubuh berupa denyutan jantung yang lebih lambat, tekanan darah meningkat, serta peningkatan suhu tubuh. Sebaliknya musik dengan kunci major dan tempo cepat akan membawa perasaan bahagia diikuti pernapasan yang lebih cepat. Musik telah dipakai sebagai media pengobatan sejak tahun 550 sebelum Masehi, dan dikembangkan Pythagoras dari Yunani. Konsep musik ini diterapkan bersama oleh pakar musik Peter Huebner dan komposer-komposer musik klasik Jerman, dalam bentuk musik terapi-medis-resonansi atau istilah asingnya Medical Resonance Therapy Music, disingkat MRT-M.

Daya pengobatan MRT-M ini membawa dampak positif pada ibu hamil, baik yang sehat maupun dengan gangguan. Penurunan angka kelahiran prematur merupakan salah satu pengaruh efek pengobatan musik tersebut. Musik juga dapat memperingan kasus keracunan kehamilan sampai efek antistress bagi ibu yang akan menjalani operasi caesar. Singkat kata, dengan pangaruh MRT-M proses melahirkan menjadi lebih alami dan mengurangi trauma, serta ibu merasa lebih ceria dan tenang. Sebuah penelitian juga menunjukkan, ibu hamil yang bekerja di tempat bising mempunyai kecenderungan anaknya menjadi hiperaktif.
Dikutip dari tokotop.com/terapi_musik_bayi..
Baca juga mengenai musik klasik untuk sang buah hati.. :)

Sunday, October 25, 2009

Music for children (1)

Pengin punya bayi yang sehat wal'afiat cerdas dan kuat?
Perlu diperhatikan nieh buat para ibu-ibu hamil. Mm, tapi tentuna juga ga luput dari peran serta bapakna juga. Bikinna bareng-bareng..yaa ngurusina juga bareng-bareng dunk. Jadi lah kluarga yang kompak.. hehee.. piiss.. :)

Pembentukan organ-organ bayi dapat dioptimalkan melalui gizi dari asupan makanan sang ibu, kegiatan penunjang lainnya seperti senam hamil serta dari terapi musik. Dari berbagai sumber dan pakar-pakar dalam hal ihwal urusan musik, dikatakan bahwa terapi musik dapat merangsang kecerdasan otak janin. Karena itulah setiap hari sang janin dalam kandungan perlu mendengarkan musik yang menenangkan perasaan agar ia kelak tumbuh menjadi anak yang cerdas. Tapi perlu digarisbawahi bahwa musik yang dibutuhkan oleh janin bukan musik ‘rock’ yang notabene keras ntu loh.

Terapi musik merupakan materi musik yang mampu mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang, baik fisik maupun mental karena ada keterkaitan antara musik dengan emosi atau mental seseorang. Khusus untuk ibu-ibu hamil, terapi musik ini bertujuan untuk memberikan stimulasi pada janin.

Patut diketahui bahwa terbentuknya telinga janin diawali pada usia kehamilan 24 minggu atau 5-6 bulan. Bila seluruh bagian dari telinga telah terbentuk, maka si janin akan mendengar suara yang datang dari luar, seperti layaknya kita semua. Yang lebih menakjubkan lagi, terbukti bahwa janin bukan saja mendengar, tetapi juga memberikan respon terhadap suara yang didengarnya. Makana sering djumpai ketika sang ibu mengajak bicara sang janin di dalam perut, terkadang si jabang bayi akan memberikan respona, seperti ada reaksi gerakan atau menendang-nendang di dalam perut.

Berdasarkan perkembangan embriologi, otak terdiri dari dua belahan, yakni belahan otak kanan dan belahan otak kiri yang pembentukannya dimulai pada awal-awal kehamilan sampai bayi lahir. Belahan otak kiri merupakan tempat untuk melakukan fungsi akademik yang terdiri dari berbicara/kemampuan tata bahasa, baca-tulis-hitung, daya ingat, logika, angka, analisis dan lainnya. Karena bersifat logis, maka otak kiri berhubungan erat dengan pembentukan kecerdasan otak anak pada pendidikan formal. Sedangkan belahan otak kanan berkaitan dengan perkembangan artistic dan kreatif, perasaan, gaya bahasa, irama, imajinasi, khayalan, warna, pengenalan diri dan orang lain, sosialisasi dan pengembangan kepribadian.

Jelas sekali dapat disimpulkan bahwa fungsi otak kiri dan otak kanan, ada kaitannya dengan musik. Dengan demikian, pada pelaksanaan terapi musik bagi ibu-ibu hamil, maka perangsangan atau stimulasi mental haruslah mencakup perkembangan dari kedua belahan otak tersebut agar sang bayi kelak tumbuh dan berkembang menjadi individu atau manusia seutuhnya. Dengan kata lain, ada keseimbangan antara fungsi otak kiri dan fungsi otak kanannya.

Adapun manfaat terapi musik dalam kehamilan sebagai upaya mengoptimal kan kecerdasan si kecil, antara lain:

Pertama, bagi ibu hamil/ibu setelah melahirkan, terapi musik dapat menimbulkan reaksi psikologis karena musik bisa menenangkan dan memberikan perasaan;

Kedua, melalui terapi musik dapat menyongsong masa depan bayi/anak yang lebih cemerlang karena menghadapi era globalisasi individu yang memiliki keterampilan otak akan dihargai lebih tinggi dan sangat dibutuhkan dibandingkan individu yang hanya mengandalkan kekuatan otak.

Ketiga, kegiatan terapi musik ternyata dapat membantu ibu hamil agar terapi dapat mempertahankan kesehatan jasmani, pikiran dan emosi.

Keempat, melalui rangsangan-rangsangan musik yang diperdengarkan kepada janin/bayi secara teratur, maka dapat memberikan pengaruh yang sangat besar bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi tersebut kelak di kemudian hari.

Kelima, maka dalam diri anak kelak akan tumbuh kepribadian yang kuat dan ia mampu menyerap banyak hal.

Keenam, dengan terapi musik menjadi janin/anak dapat meresapi musik,yang berarti ia juga mampu memahami perasaan orang lain.

Saran bagi ibu-ibu hamil di dalam melakukan terapi musik ada tiga tahapan penting, yakni tahapan relaksasi fisik, tahapan relaksasi mental, dan tahapan rangsangan musik pada janin.

Untuk mencapai rileks secara fisik dapat digunakan teknik yang disebut progresif relaxation. Pada tahap ini ibu-ibu hamil mengendorkan dan mengencangkan sembilan otot tubuh secara berurutan sambil mengatur nafas. Sementara pada tahapan relaksasi mental, ibu-ibu hamil harus dipandu oleh instruktur terapis musik dengan kata-kata yang bersifat sugesti. Ibu hamil dibawa ke dalam suasana yang melupakan semua ketegangan dan kecemasan yang mereka rasakan selama kehamilan. Setelah perasaan ibu hamil merasa rileks, barulah mendengarkan musik dan tempatnya bisa di mana saja, terutama yang dianjurkan musik klasik ciptaan W.A. Mozart yang secara khusus untuk ibu-ibu hamil.

Lantas untuk memperoleh manfaat dari mendengarkan musik, maka ibu hamil dianjurkan untuk mendengarkan musik dengan penuh perhatian dan kesadaran. Artinya, musik harus mendapatkan kesempatan untuk merasakan ke dalam pikiran. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk terapi musik sekitar tiga puluh menit setiap hari.

Dengan melakukan terapi musik secara teratur setiap hari yang dimulai pada usia kehamilan 24 minggu, maka diharapkan dapat mengoptimalkan kecerdasan si kecil di kemudian hari.
sumber dari kabarindonesia.com.

Friday, October 23, 2009

Rangsangan musik bagi kecerdasan otak

Sebenarna gada orang bodoh di dunia ini. Yang ada hanyalah orang yang ngga tau, belum ngerti, belum paham. Dan gada juga orang pinter di dunia ni, adana orang yang lebih tau dan lebih ngerti..plus lagi mujur aja kali yak dberi anugerah kelapangan pengetahuan yang luas. Kedua frase ntu dbikin sebagai konotasi aja, trus biar bisa dpake juga wat soal ujian cpns dalam kategori antonim.. hehee.. ;p

Lah,pa hubungana ma musik yak?mm, gini ne.. sebenerna cm pengin ngaitin aj sama kenyataan yang pernah aq temuin. Ada seseorang yang kebetulan dalam hal kerjaan sehari-hari dia kurang ngertian, n ga mau tauan.Tapi dia punya satu hobi yang selalu dia andalin. Yaitu main musik. Ketika dia mulai disibukkan dengan keahliannya itu, dia seakan berubah jadi orang yang paling ngerti..ngga kalah sama orang-orang yang dbilang pinter dluar sana. Nah koq bisa ?

Pertama, mujur.. iya. Coz dia diberi anugerah kelebihan di lain hal, bakat maksudna. Trus, yang terpenting adalah melalui musik, seseorang dapat lebih mengoptimalkan kinerja otak kanannya. Seperti kita ketahui otak manusia memiliki dua bagian besar, yaitu otak kiri dan otak kanan. Walaupun banyak peneliti mengatakan bahwa kemampuan musikal seseorang berpusat pada belahan otak kanan, namun pada proses perkembangannya proporsi kemampuan yang tadinya terhimpun hanya pada otak kanan akan menyebar melalui Corpus Callosum kebelahan otak kiri. Akibatnya, kemampuan tersebut berpengaruh pada perkembangan linguistik seseorang. Dr. Lawrence Parsons dari Universitas Texas San Antonio menemukan data bahwa harmoni, melodi dan ritme memiliki perbedaan pola aktivitas pada otak. Melodi menghasilkan gelombang otak yang sama pada otak kiri maupun kanan, sedangkan harmoni dan ritme lebih terfokus pada belahan otak kiri saja. Namun secara keseluruhan, musik melibatkan hampir seluruh bagian otak. Dr. Gottfried Schlaug dari Boston mengemukakan bahwa otak seorang laki-laki musisi memiliki Cerebellum (otak kecil) 5% lebih besar dibandingkan yang bukan musisi. Kesemua ini memberikan pengertian bahwa latihan musik memberikan dampak tertentu pada proses perkembangan otak.


Nah, sebenarna gini nih prosesi awalna..
Semua jenis bunyi atau bila bunyi tersebut dalam suatu rangkaian teratur yang kita kenal dengan musik, akan masuk melalui telinga, kemudian menggetarkan gendang telinga, mengguncang cairan di telinga dalam serta menggetarkan sel-sel berambut di dalam Koklea untuk selanjutnya melalui saraf Koklearis menuju ke otak. Ada 3 buah jaras Retikuler atau Reticular Activating System yang diketahui sampai saat ini.

Pertama: jaras retikuler-talamus. Musik akan diterima langsung oleh Talamus, yaitu suatu bagian otak yang mengatur emosi, sensasi, dan perasaan, tanpa terlebih dahulu dicerna oleh bagian otak yang berpikir mengenai baik-buruk maupun intelegensia.
Kedua: melalui Hipotalamus mempengaruhi struktur basal “forebrain” termasuk sistem limbik, dan ketiga: melalui axon neuron secara difus mempersarafi neokorteks. Hipotalamus merupakan pusat saraf otonom yang mengatur fungsi pernapasan, denyut jantung, tekanan darah, pergerakan otot usus, fungsi endokrin, memori, dan lain-lain. Seorang peneliti Ira Altschuler mengatakan “Sekali suatu stimulus mencapai Talamus, maka secara otomatis pusat otak telah diinvasi.”
Sebuah survey pada suatu seminar menunjukkan bahwa pendengarnya mengatakan bahwa mereka tidak mendengarkan syair dari sebuah lagu. Namun pada waktu lagu tersebut diperdengarkan, separuh dari mereka dapat melagukannya tanpa mereka sadari. Hal ini menunjukkan adanya memori dalam otak yang mampu merekam apa saja yang masuk melalui pendengarannya bersama musik, tanpa mampu dicerna oleh akal sehat. Kesimpulannya tidak ada lagu/musik yang mampu dicegah masuknya ke dalam otak kita, walaupun kita berkata “saya tidak mendengarkan syairnya”.
Seorang peneliti, Donald Hodges, mengemukakan bahwa bagian otak yang dikenal sebagai Planum Temporale dan Corpus Callosum memiliki ukuran lebih besar pada otak musisi jika dibandingkan dengan mereka yang bukan musisi. Kedua bagian ini bahkan lebih besar lagi jika para musisi tersebut telah belajar musik sejak usia yang masih sangat muda yakni di bawah usia tujuh tahun. Gilman dan Newman (1996) mengemukakan bahwa Planum Temporale adalah bagian otak yang banyak berperan dalam proses verbal dan pendengaran, sedangkan Corpus Callosum berfungsi sebagai pengirim pesan berita dari otak kiri kesebelah kanan dan sebaliknya.

Mo tau seberapa luasnya manfaat musik?

::Efek Musik::

Ada ngga si orang yang anti sama musik? yang ada mah anti sama teroris kali yak. Teroris aja menghasilkan musik dari kegiatana. (dengerin aja kalo mereka lagi beraksi.. dorr..dorr..bumm..) itu backsoundna :) Trus jaman kanak-kanak udah ada aja tuh lagu nina bobo. Mm,sapa nyang nyiptain yak? Sedari kita kecil udah ada lagu kanak-kanak, swaktu kita kecil - nenek kakek udah punya lagu andalan tempoeh dahoeloenya, n yang pasti tiap negara merdeka udah punya lagu kebangsaan mereka sendiri yang sekaligus jadi indentitas negara. Anybody not using music? alaah..english jawa.. :D

Nah, sebelum lebih jauh djelasin, dari uraian di atas udah keliatan kan beragamnya efek musik? mm, belum yah? ya sutralah kalo gitu.. simak lagi yang berikutna yak.. :p
Musik jadi backsound macem2, backsound film?pasti.. , backsound senam?jelas.. , backsound nari?iyalah.. , palagi backsound wat hidup km..pasti udah punya donk playlist favorite. . ;)
Well, slain itu musik juga biasa dipakai untuk terapi-terapi berbagai macam masalah kesehatan, terapi stress, terapi religi, terapi ibu hamil, terapi kecerdasan otak dan lain-lain. Hmm, banyak juga kan manfaatna? nah baikna dkupas atu-atu yuk, biar lebih tau dan bisa lebih d optimalkan manfaatna.

Thursday, October 22, 2009

Spirit inside music

::Spirit inside music::

Lagi emosi tak terkendali?biasana kalo pas gada sarana media wat maki-maki/banting2/nendang2.. sasarana langsung ambil headset/mp3/nyetel radio trus dengerin musik keceng2 sambil ngedumel alias ngomel lewat hentakan lirik lagu yang dgembar gemborin. Are you? (<- kliatan neh pglmn pribadi..hehe..) ;)

Selama ngga ngrugiin orang lain seh so far so good laah.. Coz berdasarkan penelitian ahli-ahli tukang teliti, telah ditunjukkan kalo terapi musik sangat efektif wat meredakan kegelisahan dan stress, mendorong perasaan rileks serta meredakan depresi. Terapi musik membantu orang-orang yang memiliki masalah emosional dalam mengeluarkan perasaan mereka, membuat perubahan positif dengan suasana hati, membantu memecahkan masalah, dan memperbaiki konflik.

Nah,buat ente-ente yang kebetulan biasa terlalu ekspresif, siapa bilang musik rock yang notebene gedubrakan ga karuan ntu gada gunanya n cuma bisa bikin onar? eit, ntar dulu.. da positifna koq. Selama nyalurinnya dengan positif, musik rock punk till underground pun bisa wat ngredam stress loh. Gak percaya? Penelitian terbaru yang dilansir oleh Sciencedaily, menyebutkan bahwa penggemar musik heavy metal ternyata lebih pandai meredam emosi negatif, lebih ekspresif dan lebih bisa meluapkan kemarahannya.

Penelitian yang melibatkan 1.057 murid dari usia antara 11 dan 18 tahun dari sekolah National Academy di Amerika. Semua responden diteliti dengan cermat hubungan mereka dengan keluarga, perilaku di sekolah, bagaimana mereka menghabiskan waktu santai, musik kesukaan, dan jenis media yang mereka konsumsi.

“Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa bahwa presepsi yang selama ini beredar salah. Selama ini orang menganggap murid yang cerdas dan memiliki inteligensia tinggi cenderung didominasi mereka yang suka musik klasik dan menghabiskan banyak waktu untuk membaca,” ujar Stuart Cadwallader, kepala penelitian dari Warwick University.

Sayangnya, menurut Stuart studi mereka yang menikmati musik heavy metal cenderung mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan dengan keluarga dan teman-teman mereka. Dan mereka menjadikan musik sebagai media ‘keterbukaan’.

Sebagian besar murid mengatakan mereka tidak mempertimbangkan untuk menjadi penganut Metal sejati tapi musik heavy metal memahami aspek spesifik kebudayaan pemuda saat ini. Dengan menggunakan musik yang keras dan agresif, mereka bisa keluar dan lepas dari rasa frustrasi dan kemarahan.

Di sini berhasil dibuktikan bahwa musik heavy metal atau cadas juga bisa meredakan situasi hati atau mood yang sedang buruk. Menurut Stuart, banyak musisi aliran heavy metal juga memiliki tingkat inteligensia tinggi seperti vokalis Iron Maiden, Bruce Dickinson, yang juga berprofesi sebagai novelis dan pilot penerbangan komersial. (rileks.com)